Kemerdekaan di Bulan Penuh Rahmat

Syukur alhamdulillah kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat-berkah, bulan turunnya Al-Qur’an. Di tahun 2011 tanggal 1 Ramadhan sendiri jatuh pada tanggal 1 Agustus yang artinya kita akan merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-66 dalam keadaan berpuasa, seperti saat Indonesia merdeka.

Sebentar lagi kita akan menghadapi 2 hari besar yang patut disyukuri, yaitu hari kemerdekaan RI dan nuzulul qur’an. Alangkah baiknya kita bisa merayakannya dengan bijak. Janganlah terlalu merayakan kemerdekaan secara  berlebihan hingga melupakan masalah akhirat. Pokoknya urusan dunia dan akhirat mesti balance.

Di momen seperti ini, lewat tengah malam yang sepi, saya coba untuk berpikir tentang suatu hal berbeda. Awalnya saya berpikir untuk membahas hakikat kemerdekaan, tapi mari mencari korelasi antara kemerdekaan dan ramadhan.

Kemerdekaan diraih tak semudah kita membalikkan telapak tangan atau menghirup napas, tapi dicapai dengan susah payah dan harus dibayar dengan banyak hal, dengan harta dan segala daya upaya. Begitupun ramadhan, dibulan ini kita harus berjuang melawan hawa nafsu baik lapar, haus, emosi, dan lainnya.

Dalam perjuangan kemerdekaan, kita mencoba lepas dari belenggu penjajah dan dalam berpuasa ramadhan, kita mencoba lepas dari belenggu setan yang mengungkung kita.

Setelah berjuang sekian lama, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, kita pun meraih kemerdekaan. Dan setelah berpuasa selama sebulan penuh, kita dipertemukan dengan hari kemenangan.

Dan setelah kemerdekaan dan hari kemenangan kita dapatkan, perjuangan tak berhenti disitu, kita masih harus berjuang mempertahankan apa yang telah kita dapat. Kita harus mempertahankan kemerdekaan negeri kita ini dan mempertahankan kefitrian hati dan jiwa.

Namun, ada hal yang tak bisa saya samakan antara perjuangan kemerdekaan dan perjuangan di bulan ramadhan. Setelah mendapatkan kemerdekaan kita akan amat bersyukur dan senang tak terkira. tapi dalam perjuangan di bulan ramadhan, walaupun kita merasa senang setelah berhasil melaluinya, ada secercah rasa sedih membumbung. Sedih karena berpisah dengan bulan yang amat mulia ini, sedih karena takut tak akan bertemu kembali dengan bulan ramadhan selanjutnya.

42 menitpun berlalu melewati pukul 2 pagi, udah terlampau larut untuk saya tetap terjaga. Cukup sekian dari saya.

Mari tanamkan semangat kemerdekaan untuk menuju hari yang fitri . . . .

2 thoughts on “Kemerdekaan di Bulan Penuh Rahmat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s