Hikayat (25) Al-Bashri dan Gadis Kecil

Suatu hari, ketika Hasan al-Bashri sedang duduk di teras, lewatlah jenazah dengan iring-iringan di belakangnya. Di bawah jenazah tersebut, ikut berjalan juga gadis kecil dengan rambut kusut. Ia menangis. Al-Bashri berdiri mengikuti gadis kecil.

                Anak gadis itu berkata, “Baru kali ini aku mengalami seperti ini, Ayah.”

                “Ayahmu juga tak pernah mengalami seperti ini,” sahut al-Bashri.

                Setelah dilakukan shalat jenazah, ia lalu pulang.

Esoknya, usai shalat shubuh dan matahari telah terbit, seperti biasanya ia duduk di teras rumah. Tiba-tiba pandangannya menangkap gadis kecil kemarin yang sedang menangis. Ia pergi menuju makam ayahnya.

“Gadis kecil yang bijak,” gumamnya. “Aku akan mengikutinya. Semoga kata-katanya berguna bagiku.”

Ketika gadis kecil itu tiba di makam ayahnya, al-Bashri bersembunyi agar tak diketahui kehadirannya. Ia lihat gadis kecil itu jongkok dan menempelkan pipinya ke tanah.

“Ayah,” kata gadis kecil itu. “Bagaimana kau tinggal sendirian dalam kubur yang gelap tanpa pelita, tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, siapa yang menyalakannya tadi malam? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijit tangan dan kakimu, siapa yang memijitmu tadi malam, Ayah? Kemarin aku memberimu minum, kini siapa yang melakukannya? Kemarin malam aku yang membaringkan badanmu dari satu sisi ke sisi lain agar lebih enak, siapa tadi malam yang melakukan, Ayah?

Kemarin malam kuselimuti engkau, lalu tadi malam siapa yang menyelimutimu, Ayah. Kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapa yang memperhatikanmu tadi malam, Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku memenuhi panggilanmu lantas siapa yang menjawab panggilanmu. Ayah? Kemarin malam aku suapi engkau bila engkau ingin makan, siapa yang menyuapimu tadi malam, Ayah? Kemarin malam aku memasakkan engkau aneka makanan, lalu tadi malam siapa yang memasakkanmu, Ayah?”

Hasan al-Bashri tak tahan, ia lalu menangis. Ia segera menunjukkan diri. “Hai gadis kecil, jangan berkata begitu. Tetapi ucapkanlah:

Kuhadapkan engkau ke arah kiblat. Apakah kau masih begitu ataukah telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau denan kafan terbaik, masih utuh ataukah telah tercabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, kalu apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?

Ulama berkata, hamba yang mati ditanyakan imannya, ada yang menjawab dan ada yang tidak. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah kau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, ataukah tak berdaya?

Ulama berkata, mereka yang mati kafannya diganti dengna yang dari surga, atau kafan dari neraka. Kamu dapat kain kafan yang mana, Ayah?

Ulama berkata, kubur sebagai taman surga atau jurang menuju neraka. Ulama berkata, kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sehingga tulang belulang berantakan. Apakah kau dibelai atau dimarahi, Ayah?

Ayah, Ulama berkata, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah kau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?

Jik kupanggil enkau selalu meyahut. Sekarang aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu bagaimana aku bisa tak mendengar sahutanmu, Ayah?

Ayah, engkau telah tiada. Aku tak bisa menemuimu lagi hingga kiamat nanti. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Kau ingatkan aku dari terlelap lalai.”

Mereka lalu pulang dengan tangis berderai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s